Festival Sastra Yogyakarta (FSY) hadir kembali. Terinspirasi oleh berbagai khasanah budaya dan bahasa di Nusantara, FSY kali ini mengambil tema “Rampak”, yang artinya serempak dan bersamaan. Rampak juga berarti setara. Rampak kemudian dimaknai oleh FSY sebagai kerja kolaboratif yang setara, yang memberi ruang secara harmonis untuk beragam perspektif, medium, dan pengalaman bersastra bertemu dan saling menguatkan.
Di Yogyakarta, diseminasi dan apresiasi karya sastra tumbuh subur dalam suasana sosial yang dihidupi oleh berbagai komunitas. Sastra di kota ini bukanlah sebuah lanskap individual atau arena pertarungan ego atau estetika semata, melainkan ladang kolaborasi yang tiada habis dan tiada hentinya. Oleh karena itu, rampak menjadi penting sebagai identitas gerak komunitas dalam bersastra. Terutamanya dalam merespons krisis multidimensi, di mana manusia modern yang soliter dengan spesialisasi sempit tak cukup bisa menyentuh kompleksitas masalah-masalah kehidupan terkini. Sastra dan komunitasnya di Yogyakarta membaca situasi ini sebagai yang justru melahirkan peluang untuk menghidupkan kembali ruang-ruang kolektif yang inklusif dalam gerak yang rampak. Di sinilah komunitas sastra tidak hanya menjadi wahana mencipta karya, tetapi juga dengan karya itu, berkolaborasi, bertukar perspektif lintas bidang, demi menjadi kritis terhadap berbagai problematika sosial yang ada.
Melalui diskusi, publikasi, hingga gerakan sosial berbasis karya sastra, komunitas-komunitas ini mengajarkan bahwa laku berkesenian paling kuat justru lahir saat dilakukan bersama. Rampak dalam komunitas sastra bukan sekadar metode, melainkan cara merawat kemanusiaan dalam bahasa, cerita, dan keberpihakan.