Festival Sastra Yogyakarta (FSY) adalah sebuah festival yang ditujukan untuk menjadi ruang pertemuan antar warga sastra, secara khusus di Kota Yogyakarta. Sastrawan, pengarang, penulis, penikmat, media, warga, penjaja buku sastra, ilustrator sastra, situs dan artefak sastra adalah ekosistem yang diharapkan dapat terfasilitasi untuk merayakan sastra dalam festival ini.
Berawal pada tahun 2022, FSY membawa tema “MULIH”, dengan semangat menghadirkan kembali berbagai perayaan sastra pascapandemi, sekaligus memulangkan kembali semangat dan geliat sastra di Yogyakarta sebagai rumah sastra di Indonesia. Berfokus lokasi pada area Malioboro—yang merupakan titik 0 keramaian Kota Yogyakarta—dan kampung-kampung di sekitarnya, FSY 2022 menggelar berbagai program-program sastra, diantaranya seperti acara pembuka “Panggung Sastra” yang diramaikan oleh Iksan Skuter dan FLKTVLST, sukses menggaet ratusan penikmat sastra meramaikan kawasan Malioboro. Selanjutnya ada “Radio Sastra” yang menyiarkan audio pembacaan karya sastra pendek di speaker informasi publik sepanjang jalan Malioboro, diskusi sastra melalui program “Bincang Sastra” dan “Angkringan Puisi”, “Sastra Anak” yang menampilkan panggung pertunjukan sastra oleh anak-anak, “Sastra Liyan” yang berisi diskusi perihal industri buku dalam cara pandang dan siasat alternatif dalam distribusi literasi sastra, “Sastrastri” yang menjadi program berfokus pada mewadahi sastra dan perempuan, menampilkan pertunjukan sastra oleh ibu-ibu buruh gendong Pasar Beringharjo yang mekespresikan diri mereka lewat drama dan puisi. Selain itu, ada program harian “Kampung Aksara”, sebuah program yang digelar di kampung-kampung di Kota Yogyakarta yang membuka kelas membaca dan menulis aksara. Program ini bekerja sama dengan berbagai sanggar sastra Jawa dan komunitas aksara Jawa di Kota Yogyakarta. Salah satu program yang juga menjadi highlight pada penyelenggaraan tahun ini adalah “Gerbong Sastra”, yaitu pembacaan karya sastra oleh Joko Pinurbo, Rendra Bagus Pamungkas, dan Sekar Sari serta penampilan Rumah Pantomim Yogyakarta di dalam gerbong kereta api rute Stasiun Tugu – Stasiun YIA.
Berbekal kesuksesan, antusiasme dan semangat dari tahun sebelumnya, FSY kembali digelar pada tahun 2023 mengusung tema “SILA” sebagai kesinambungan tema MULIH pada tahun sebelumnya. SILA mempunyai beragam pemaknaan. Dalam FSY 2023 SILA dimaknai sebagai duduk bersila, kontemplatif, mendengar dan melihat kedalaman, dengan harapan setelah MULIH, FSY 2023 mampu membaca ke dalam diri, untuk kemudian merefleksikan ke dalam bentuk-bentuk program dalam merayakan pertemuan sastra di Yogyakarta.
SILA juga mengandung makna “sila, aturan, moral” seperti yang ada dalam makna Pancasila. Dua pemaknaan tersebut ditautkan menjadi semangat FSY 2023, sebagai perayaan sastra dengan menggali kedalaman diri (aset dan potensi sastra Yogyakarta), kemudian merefleksikan pembacaan tersebut dalam program-program festival yang sarat akan sumbangsih ketertataan sosial, melalui media sastra.
FSY 2023 “bersila” di kawasan Kotabaru, sebagai salah satu Kawasan Cagar Budaya di kota Yogyakarta. Kotabaru dipilih sebagai salah satu situs penting dalam pengembangan sastra dan literasi di Yogyakarta, di mana di kawasan tersebut terdapat berbagai lokus literasi seperti: toko buku, perpustakaan, Balai Bahasa, Bentara Budaya, kantor redaksi, sekolahan, dan sebagainya. Aspek sejarah kawasan Kotabaru yang kaya akan berbagai narasi dalam proses peralihan kebudayaan asing ke budaya Yogyakarta juga menarik untuk dijadikan pijakan dalam merancang program-program Festival.
Gebrakan program dari FSY 2023 ini menggelar Sayembara Puisi Nasional (SPN), “menghidupkan kembali” sayembara puisi yang pernah marak di kota Yogyakarta. Total terdapat lebih dari 3700 karya puisi dari 1236 orang partisipan yang mendaftarkan karyanya dengan tema “Yogyakarta”. Joko Pinurbo, Ramayda Akmal, Ni Made Purnamasari yang ditunjuk sebagai dewan juri.
FSY 2023 semakin berkembang bentuknya dari segi jumlah program, mitra kolaborasi, dan keterlibatan masyarakat. Dalam penyelenggaraan FSY tahun ini, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta berkolaborasi dengan Balai Bahasa Yogyakarta dimana sebagian besar lokasi akan terpusat di Balai Bahasa Yogyakarta di Kotabaru. Selain itu, FSY kerjasama dengan sekolah-universitas di kawasan Kotabaru (SMA 3, SMP, 5, Stella Duce I, UKDW) untuk menggelar program Radio Sastra. Radio Sonora, Kafe-kafe di Kotabaru, juga menjadi tempat pagelaran program FSY 2023. Nama-nama performer seperti Wisnu Nugroho, Iksan Skuter, Panji Sakti, dan Olski juga turut meramaikan rangkaian program FSY 2023.
Di tahun ketiganya, FSY digelar pada 28-30 November bertempat di Taman Budaya Embung Giwangan. Pada gelaran tahun 2024 ini, FSY merespon tema “SIYAGA” dalam sastra dan budaya. SIYAGA, dimaknai sebagai ancangan sikap pelaku dan penikmat sastra dalam menghadapi perubahan besar yang sedang terjadi. Arena, medan, ruang, dan media sastra tengah mengalami pergeseran signifikan. FSY berupaya membaca kembali medan sosial sastra dalam ulang alik dinamika budaya. Arena sastra tidak lagi sesederhana pasar bagi pengarang dan penerbit. Namun, muncul pula pelaku kreatif lain yang mendapatkan manfaat dalam pasar sastra. Pemangu kepentingan lain bermunculan dalam ekosistem sastra seperti ilustrator, penerjemah, pendengung (influencer sastra/bookstagram), dan komunitas-komunitas kreatif dalam lingkaran sastra.
Berbagai program menarik diturunkan dari pemaknaan Festival Sastra Yogyakarta akan SIYAGA itu sendiri. Sayembara Puisi Nasional masih menjadi program unggulan dengan menjadi wadah bibit-bibit penulis puisi yang berhasil mengumpulkan 1.511 partisipan dengan lebih dari 4500 karya puisi, jumlah yang bertumbuh signifikan dari penyelenggaraan SPN di tahun sebelumnya.
FSY 2024 juga masih menjadi wadah kolaborasi berbagai ekosistem sastra nasional, seperti menggelar satellite program yang berkolaborasi dengan Ubud Writers & Readers Festival, menggelar kelas kelas dan diskusi sastra, juga mewadahi program-program seru dari Palmerah, Yuk!, menyediakan Pasar Sastra yang diisi oleh beragam penerbit dan toko buku/
Program Sastra Boga digelar untuk menyajikan kreasi makanan yang diambil dari resep di sastra Jawa, menyediakan makan malam ala ningrat Jawa. Program ini diisi oleh Asri Saraswati dari Murakabi, dan Tepi Kota. Turut menambah semarak juga diisi oleh alunan musik dari Keroncong Gadis Gendhis. Nama-nama seperti Frau, Ria Papermoon, Ayu Utami, Saras Dewi, hingga Oppie Andaresta juga mengisi program-program dari FSY 2024.
Penyelenggaraan FSY 2024 ditutup dengan tema yang didedikasikan untuk salah satu tokoh sastra yang juga membentuk sastra saat ini, Alm. Joko Pinurbo. “Malam ini Jokpin Tidur di Matamu” dipilih menjadi tajuk yang manis untuk merayakan karyanya dan melangitkan doa untuk beliau.
Tahun 2025, Festival Sastra Yogyakarta (FSY) hadir kembali. Terinspirasi oleh berbagai khasanah budaya dan bahasa di Nusantara, FSY kali ini mengambil tema “Rampak”, yang artinya serempak dan bersamaan. Rampak juga berarti setara. Rampak kemudian dimaknai oleh FSY sebagai kerja kolaboratif yang setara, yang memberi ruang secara harmonis untuk beragam perspektif, medium, dan pengalaman bersastra bertemu dan saling menguatkan.
Di Yogyakarta, diseminasi dan apresiasi karya sastra tumbuh subur dalam suasana sosial yang dihidupi oleh berbagai komunitas. Sastra di kota ini bukanlah sebuah lanskap individual atau arena pertarungan ego atau estetika semata, melainkan ladang kolaborasi yang tiada habis dan tiada hentinya. Oleh karena itu, rampak menjadi penting sebagai identitas gerak komunitas dalam bersastra.
Masih digelar di Taman Budaya Embung Giwangan , program-program menarik akan kembali disajikan. Jadi mari bersiap dan kembali berkumpul merayakan sastra di Festival Sastra Yogyakarta 2025!