Di tengah aula Grha Budaya yang riuh oleh gumam pengunjung, tumpukan buku, dan tawa kecil yang mengalir di antara sesi-sesi Festival Sastra Yogyakarta 2025, nama George Orwell tiba-tiba menggema.
Sore itu, 30 Juli 2025, sang penulis distopia hadir bukan sebagai nama dalam katalog penerbitan, melainkan sebagai cermin yang memantulkan wajah kekuasaan dan ketakutan yang masih akrab bagi generasi algoritma.
Penerbit Bentang Pustaka dan Komunitas Suku Sastra bekerja sama membicarakan tiga buku karya Orwell dalam dalam rangka Festival Sastra Yogyakarta 2025. Ketiganya adalah Gerundelan Penulis Kere, Animal Farm, dan 1984.

“Kenapa Orwell masih relevan?” tanya Ardhias Nauvaly, moderator dari Bentang Pustaka, membuka diskusi.
Belum sempat dijawab, fakta paling mencolok lebih dulu terucap: mayoritas yang hadir di aula itu adalah anak muda. Orwell, yang pernah hidup di awal abad 20, mendadak jadi bagian dari percakapan anak-anak abad 21. Dari situ, arah diskusi mengalir. Bukan lagi tentang buku tua dari masa lalu, melainkan tentang bagaimana pikirannya tetap berdetak di kepala mereka yang lahir di zaman kamera pengawas dan pelacakan lokasi.
“Yang tua juga pernah muda,” celetuk Dhias, sambil melirik An. Ismanto dari komunitas Suku Sastra yang duduk bersandar tenang.
An. Ismanto pun membuka kisahnya. Ia mengenal Orwell di sudut perpustakaan kampus UNY, lewat Animal Farm, lalu 1984, dan Keep The Aspidistra Flying dalam bahasa Inggris.
“Konon, kalau anak muda ingin melek politik, bacalah Orwell!” ujar Dhias, memancing tawa. An. Ismanto membalas dengan cerita tentang era pasca-reformasi, saat penerbit-penerbit independen mulai menerjemahkan karya-karya yang dulu dilarang Orde Baru. Di masa itu, anak muda yang “keren” bukan mereka yang modis, tapi yang compang-camping, rajin demo, dan membawa buku-buku karya para penulis “sangar”—Orwell, Nietzche, Freud.
Lewat Animal Farm, Orwell mengkritik rezim Soviet. Tapi, apakah alegori tentang Stalin dan Trotsky masih punya gema di negeri yang pasca reformasi (konon) tak pernah mengalami komunisme? Bagi An. Ismanto, relevansinya justru terletak pada pengubahan aturan demi kepentingan elite. Dalam novel itu, hewan-hewan awalnya dilarang minum bir. Namun, ketika babi Napoleon menyukai bir, aturan itu direvisi. “Mungkin itu juga terjadi di Indonesia,” katanya.
Erika Rizqi, dari komunitas Radio Buku, menambahkan pengalamannya mengenal Orwell di tahun 2017. Sejak itu, 1984 terasa makin hidup. “Semua orang seperti pernah membaca Orwell hari ini,” ujarnya. Tak heran jika Bentang Pustaka kemudian menerjemahkan Keep The Aspidistra Flying.
Judulnya sendiri, menurut An, menyindir kelas menengah—aspidistra adalah tanaman yang keras kepala, mampu bertahan dalam udara buruk dan sinar matahari minim. Di tangan Orwell, ia menjadi simbol kelas sosial yang tak kalah keras kepala dalam mempertahankan kepura-puraan. Novel itu berkisah tentang Gordon Comstock, penulis muda yang frustrasi, miskin, dan mencoba melawan sistem nilai yang mengukur segalanya dengan uang. Itulah mengapa Bentang Pustaka memilih judul Gerundelan Penulis Kere untuk Keep The Aspidistra Flying.
Bagi An. Ismanto, Gerundelan Penulis Kere layak dibaca oleh siapa pun yang hendak menempuh jalan kepenulisan. “Khususnya mahasiswa semester awal,” katanya, setengah bercanda.
Namun Orwell tak hanya bicara tentang politik. Dhias menyebutkan, novel-novelnya juga menyimpan kisah cinta. Erika mengangguk. Gordon akhirnya kembali ke pekerjaan lamanya demi menikahi Rosemary. Begitu pula kisah Winston dan Julia di 1984 yang berakhir tragis. Tapi, bagi An. Ismanto, cinta dalam karya Orwell bukanlah cinta yang utuh. Di 1984, cinta mereka berakhir di ruang penyiksaan. Winston bahkan mengkhianati Julia demi bertahan. “Apakah itu cinta?” tanyanya. Lalu menjawab sendiri: “Itu adalah situasi di mana manusia tidak bisa kembali.”
Totalitarianisme, lanjut An. Ismanto, adalah sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan, bahkan urusan ranjang. Ia menyebut contoh program Keluarga Berencana yang menurutnya masih bisa diperdebatkan.
Erika menambahkan, dalam semesta 1984, punya anak berarti menciptakan mata-mata Partai. Seks menjadi sesuatu yang tidak boleh menyenangkan. “Totalitarianisme sudah sampai ke tempat tidur,” ujarnya.
Namun, apakah Orwell sendiri bersih dari kritik? Erika mengingat satu artikel Guardian dari tahun 2003, yang menyebut Orwell pernah menyerahkan 35 nama seniman kiri kepada intelijen Inggris. Lalu, bagaimana menyikapi ironi ini?
An. Ismanto memisahkan antara karya dan pribadi. Baginya, teks sastra berdiri otonom. Meski begitu, ia mengkritik salah satu bagian plot Gerundelan Penulis Kere yang terasa janggal. Sementara itu, Erika menekankan bahwa sebuah buku tidak berdiri sendiri. Ia menyarankan untuk tetap membaca karya yang berhubungan, ketimbang menutup diri sepenuhnya. An. Ismanto menambahkan, “Saya masih membaca Harari meski kecewa ia mendukung Israel. Tapi, saya tidak mendukung orangnya.” Orwell, menurutnya, tak seberat itu dosanya. Sampai akhir hayat, ia tetap konsisten berdiri di sisi kiri.
Adakah pengaruh Orwell terhadap penulis Indonesia? “Orwell itu kiri, sangat politis,” ujar An. Ismanto. Ia membandingkan dengan Pramoedya Ananta Toer. Bedanya, jika Pram mengarahkan tombak ke luar, ke musuh, Orwell justru menikam dari dalam—mengkritik barisan sendiri.
“Lantas, apakah Orwell menawarkan solusi bagi ketidakadilan yang rasanya melintas zaman dan terus berulang?”
Itu adalah pertanyaan yang diajukan nyaris separuh penanya di sesi diskusi—pertanyaan yang menggantung di udara, seperti gema dari ketakutan kolektif yang tak kunjung padam.
Erika menjawab tanpa ragu, “Rasanya memang gelap. Tapi, setidaknya, ia bisa membentengi kita dari masa depan yang mungkin lebih gelap.”
Dan mungkin, di situlah letak pentingnya membaca Orwell hari ini—bukan untuk mencari pelarian, apalagi penghiburan, melainkan untuk berjaga. Karena, selama masih ada yang bertanya, selama masih ada yang membaca, kekuasaan yang paling gelap pun tahu: mereka sedang diawasi.*** (oleh: Kanya Kiarra/sukusastra)
Catatan redaksi: tulisan ini adalah salinan dari artikel yang dimuat di sukusastra.com dan telah mendapatkan ijin dari penulis untuk dipublikasikan kembali pada situs resmi FSY