Festival Sastra Yogyakarta

Menuju “Rampak”: Sastra yang Bertemu di Persimpangan Jalan

Senin pagi, 28 Juli 2025, ruang konferensi Hotel Style 101 di kawasan Pakualaman Yogyakarta dipenuhi jepretan kamera dan kertas-kertas catatan. Di hadapan belasan jurnalis dan lebih dari lima puluh perwakilan komunitas sastra, Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 menggelar konferensi pers sebagai pengantar menuju gelaran akbar yang akan berlangsung mulai 30 Juli hingga 4 Agustus 2025 di Taman Budaya Embung Giwangan.

Empat nama tercatat sebagai pembicara utama: Yetti Martanti, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, dan tiga kurator FSY, yatu Paksi Raras Alit, Fairuzul Mumtaz, dan Ramayda Akmal. Namun, Ramayda berhalangan hadir karena sedang berada di Jakarta. Di balik absennya satu suara, tiga lainnya menggema membawa kabar baik dari jagat sastra kota ini.

Yetti Martanti membuka sesi dengan keyakinan yang penuh gairah. Tahun ini, katanya, FSY menghadirkan Pasar Buku Sastra yang akan diisi oleh lebih dari 75 penerbit dari berbagai kota. Tak sekadar bazar buku, pasar ini dirancang menjadi ruang temu antara pembaca, penerbit, dan penulis—ruang interaksi yang menghidupkan sastra sebagai pengalaman kolektif, bukan sekadar konsumsi individu.

“FSY bukan hanya perayaan,” ujarnya. “Ini adalah panggung kolaborasi.”

Tema tahun ini: Rampak.

Setelah MULIH (2022), SILA (2023), dan SIYAGA (2024), FSY 2025 memilih kata rampak sebagai benang merah program-programnya. Bukan sekadar irama serempak dalam pertunjukan tradisi, rampak dimaknai sebagai kesetaraan, keharmonisan, dan kolaborasi lintas batas—baik medium, disiplin, maupun komunitas.

Di kota yang dikenal dengan iklim budaya yang longgar namun bergairah ini, sastra tumbuh dari akar komunitas. Ia bukan tunggal. Ia adalah jamak yang menari dalam keragaman. Maka tak heran bila kolaborasi menjadi jantung dari FSY 2025. “Yogyakarta bukan ruang perebutan legitimasi,” kata Fairuzul Mumtaz, “melainkan ladang gotong royong.”

Yetti Martanti, Paksi Raras Alit, dan Fairuzul Mumtaz dalam konferensi pers, doa bersama dan FGD komunitas sastra Festival Sastra Yogyakarta 2025

Kurator Paksi Raras Alit menambahkan bahwa tahun ini FSY menghadirkan wajah-wajah baru kolaborasi: dari stand baca weton, puisi on the spot, food truck, hingga kelas menulis aksara Jawa. Di malam penutupan, musisi dan penulis Dee Lestari akan meluncurkan tiga lagu terbarunya, sementara panggung akan dihidupkan lewat pembacaan dramatik oleh Whani Dharmawan dan Anisa Hertami.

Salah satu kolaborasi lainnya yang juga cukup mencuri perhatian adalah Sastra Pesantren. “Bukan karena saya berkopyah,” seloroh Fairuzul Mumtaz, disambut tawa ringan. “Tapi, karena suasana Timur Tengah sedang memanas. Sastra bisa apa?” Pertanyaan itu, menurutnya, akan digodok dalam sesi sastra pesantren—sebagai ruang refleksi dan pengakuan atas keberadaan artefak-artefak literasi kiai dan santri yang selama ini luput dari festival sastra arus utama.

Festival ini juga akan memunculkan product knowledge—bukan dalam pengertian dagang, melainkan rekomendasi dan pengetahuan hasil serangkaian diskusi sastra yang diolah sebagai titik tolak pemajuan ekosistem sastra di kota dan sekitarnya.

Yetti Martanti menyebut bahwa acara ini juga akan terintegrasi dengan Jaringan Kota Pusaka Indonesia, memperluas jangkauan festival ke dalam ranah kebijakan dan tata kelola kebudayaan yang lebih besar.

Konferensi pers kemudian dilanjutkan ke sesi tanya jawab. Beberapa pertanyaan muncul dari media dan komunitas. Salah satunya soal isi Pasar Buku FSY: apakah hanya seperti bazar biasa? Fairuzul menjawab tegas: “Karena ini festival sastra, 75% isinya buku sastra. Tidak ada buku sains. Kalaupun melebar, ya ke humaniora—kajian puisi, teori sastra. Itu pun karena relevan.”

Pertanyaan lain datang dari sudut berbeda: apakah sastra pesantren dimaksudkan juga untuk mempererat jaringan antarpesantren hari ini?

“Diskusi Sastra Timur Tengah dan Sastra Pesantren memang dua agenda berbeda,” terang Fairuzul. “Tapi, mereka beririsan. Keduanya mengangkat artefak-artefak karya kiai di berbagai pesantren—yang selama ini jarang terangkat.”

Lalu, soal diskon untuk taman baca? Paksi Raras menjawab dengan gaya khas Yogyakarta: “Monggo. Dijalukno mawon karo konco-konco IKAPI yang duduk di belakang.” Disusul usulan spontan dari Fairuzul untuk menyediakan kotak bank buku bagi komunitas taman baca di FSY nanti.

Focus Group Discussion dengan 30 komunitas sastra di Yogyakarta

Usai konferensi pers, acara dilanjutkan dengan Focus Group Discussion antarkomunitas sastra. Di sinilah napas panjang dari tema Rampak benar-benar mengambil bentuk. Komunitas-komunitas yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri kini duduk bersisian, membaca peta kondisi bersama, dan merumuskan langkah demi memperkuat ekosistem sastra secara kolektif. Sastra di Yogyakarta tidak pernah berdiri di atas panggung tunggal. Ia selalu bertemu di persimpangan jalan: antara buku dan tubuh, antara podium dan gerobak, antara kiai dan aktivis, antara puisi dan weton. Festival Sastra Yogyakarta 2025 bukan sekadar agenda. Ia adalah upaya merawat denyut kebudayaan, agar terus rampak, terus bersuara bersama. (oleh: Kanya Kiarra/sukusastra)

Catatan redaksi: tulisan ini adalah salinan dari artikel yang dimuat di sukusastra.com dan telah mendapatkan ijin dari penulis untuk dipublikasikan kembali pada situs resmi FSY