Sore yang ngaji adalah sore yang kau anggap sudah jauh tertinggal di belakang sementara kini kau menjelma menjadi bajingan kecil yang sesekali mencoba menentang Tuhan.
Tapi, Kamis sore itu, hari terakhir Juli 2025, ada semacam tangan kecil yang terulur, menarikmu, dan mengajakmu duduk di acara diskusi yang digelar dalam rangka Festival Sastra Yogyakarta 2025 di Taman Budaya Embung Giwangan. Dan bisikan hangat, kata yang sudah lama tak kau dengar, kembali lirih terdengar di telingamu: pesantren.
Kali itu, kata “pesantren” digandengkan dengan “sastra”. Itu, tentu saja bagimu, jadi semacam pesawat ulang-alik yang membawamu dari pelesat ingatan masa silam dan mengembalikanmu kembali pada lorong belum berujung masa kini.
Kau memperhatikan sekitar. Dengan saksama kau memandangi sekeliling ruangan yang dominan putih, yang membelakangi jejeran buku dan sudah dipenuhi puluhan orang. Lalu, kau menatap ke depan, ke panggung kecil yang kini sudah ditempati empat orang.
Moderator merebut perhatianmu. Ia mengenalkan diri sebagai santri yang mencintai sastra dan seni dan menyebut nama Awaludin G. Mualif, lalu memperkenalkan Hilmy Muhammad (Gus Hilmy) sebagai pembicara catatan kunci (keynote) sesi diskusi, dan sepasang suami istri, Raedu Basha (Yai Basha) dan Iffah Hannah (Ning Iffah), yang didapuk menjadi pembicara utama.

“Sastra pesantren bukan semata-mata ungkapan, bukan omongan oral saja,” ujar Gus Hilmy sebagai pembuka, “tapi juga adalah ekspresi dari ilmu, iman, dan ketaatan.”
Sastra pesantren juga adalah tradisi, sesuatu yang terus-menerus diproduksi oleh para pakar keilmuan Islam sebagai bagian dari distribusi ilmu pengetahuan. Ia telah menancap kuat sebagai bagian dari penyebaran Islam di Nusantara dan kini Indonesia. Bentuknya bisa beragam, mulai dari mantra, syair, puisi, hingga prosa.
Sastra pesantren tidak hadir hanya sebagai teks dan bukan cuma explicit knowledge, pengetahuan yang sifatnya indrawi, nalar-logis, tetapi juga lahir dari tacit knowledge, pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan intuisi. Oleh karena itu, sastra pesantren, sering kali bersifat reflektif.
Lantas, Gus Hilmy menembangkan dua potongan nadzam (puisi berbahasa arab), sesuatu yang begitu akrab di telingamu—yang, entah mengapa, sekaligus juga terasa berjarak. Tapi, kau mengangguk mantap sesaat setelah Gus Hilmy menutup “khotbah” singkatnya dengan mengatakan, “Sastra pesantren bukan cuma main-mainan dan pajangan, tetapi sesuatu yang sampai ke hati. Dan kita perlu bangga menjadi orang-orang pesantren.”
Perhatianmu kini kembali ke panggung kecil yang tinggal menyisakan tiga orang itu. Moderator, setelah pembacaan dua puisi dan satu kutipan novel, membuka sesi diskusi dengan melempar satu pertanyaan singkat: apa sastra pesantren itu?
Yai Basha mendapat giliran menjawab, “Pesantren itu, secara sederhana, bisa dikatakan sebagai sebuah tempat yang sudah ada sejak satu milenium lalu di Indonesia. Ia memiliki sejarah panjang yang tidak bisa diceritakan dalam satu-dua sesi diskusi.”

Tapi, ketika mengatakan sastra, di pesantren sendiri jarang kata “sastra” disebut. Bukan berarti tak ada. Sastra, sejak awal, memang mengendap dalam detak kehidupan pesantren, lahir dan tumbuh dari bentuk pengalaman spiritual yang sangat mendalam sejak mula.
Jadi, tidak heran kalau apa yang dianggap “biasa” dalam kehidupan pesantren itu kemudian disebut sebagai sastra oleh orang luar pesantren. Ketika syiir atau puisi ditulis oleh seorang kyai, ia menjelma menjadi hal praktis, sesuatu yang menjadi pengamalan sehari-hari.
Maka, sastra pesantren adalah karya sastra yang lahir dari rahim pesantren untuk siapa pun dan membawa pesan-pesan transendental, keilahian, dan spiritualitas. Selain itu, sastra pesantren ialah sastra yang yandzhuruna ilal ummah bi ainir rahmah—bisa melihat manusia dengan pandangan cinta, yang mendorong nilai-nilai kebaikan dan berpihak pada mereka yang terzalimi.
Namun, masih yang kau dengar dari Yai Basha, sastra yang lahir dari pesantren bukan berarti eksklusif. Ia tak hanya soal yang lahir dari dalam tembok pesantren, tapi juga siapa pun yang merasa memiliki sanad, ikatan batin terhadap tradisi spiritual.
Percakapan kini beralih ke soal lain setelah moderator menodong dengan satu pertanyaan lanjutan: “Apa tantangan bagi sastra pesantren?”
“Ketika ia bertemu dengan realitas modern,” jawab Yai Basha.
“Tapi,” bantah Ning Iffah setelah dipersilakan bicara, “tantangan tersebut juga bisa jadi peluang. Pemanfaatan teknologi yang baik memungkinkan penulis dari pesantren, termasuk dari kalangan perempuan, dapat menembus pasar dan mendapat tempat.”
Kemudian, dari Ning Iffah-lah kau dengar nama-nama seperti Khilma Anis dan pengalaman beberapa penulis pesantren perempuan “sukses” lain, yang bermula dari memanfaatkan teknologi—khususnya media sosial—dengan baik.

Pembicaraan soal sudut pandang perempuan, terutama ketika dalil-dalil agama—banyak kau dengar—dijadikan legitimasi dari praktik patriarki, menjadi topik yang sejak awal kau tunggu. Sebab, ia begitu genting sekaligus jarang dibicarakan. Tapi, mungkin karena keterbatasan waktu, dan arus diskusi lebih dominan dikuasai Yai Basha yang, mungkin pula, dianggap lebih memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam topik sastra pesantren, pembicaraan soal topik itu tak kau temukan sampai akhir.
Selanjutnya, diskusi bergulir dengan empat pertanyaan dari peserta: soal peran sastra pesantren dalam konteks kebangsaan, soal lingkup sastra pesantren, soal tantangan sastra pesantren ketika menghadapi maraknya ideologi anti-tuhan, dan soal bagaimana sastra pesantren dapat diterima lebih luas.
Dan, kau yang duduk di bagian pojok kanan paling depan, sekali lagi, mengawasi sekitar. Kau lihat orang-orang di samping-belakang yang, kau taksir, mayoritas seumuran denganmu, lantas meyakini bahwa mereka orang-orang taat agama.
Tak seperti dirimu.
Kau melangkahkan kaki keluar persis setelah mendengar kata penutup dari Yai Basha, mengutip kalimat Imam Zarruq dalam syarh hizbul bahr: Segala sesuatu yang muncul keluar dari dalam hati, akan diterima pula oleh hati, sambil mengamini harapan (sebagai epilog) dari Ning Iffah, agar dengung sastra pesantren dapat bergema lebih nyaring menembus batas kaku tembok-tembok agama.*** (oleh: Fathurrohman/sukusastra)
Catatan redaksi: tulisan ini adalah salinan dari artikel yang dimuat di sukusastra.com dan telah mendapatkan ijin dari penulis untuk dipublikasikan kembali pada situs resmi FSY