Festival Sastra Yogyakarta

Rampak di Persimpangan: Upaya Memetakan Ekosistem Sastra Yogyakarta

Sastra di Yogyakarta tidak pernah berdiri di atas panggung tunggal. Ia tumbuh dari keramaian, lahir dari tubuh yang menari dan lidah yang terus menyuarakan puisi. Di kota ini, sastra bertemu di persimpangan jalan: antara buku dan tubuh, podium dan gerobak, kiai dan aktivis, antara bait-bait puisi dan hitungan weton.

Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 pun bukan sekadar agenda budaya tahunan. Ia adalah upaya merawat denyut kebudayaan agar tetap rampak—berpadu dalam perbedaan, bersuara dalam keragaman.

Senin sore 28 Juli 2025, usai konferensi pers di Hotel Style 101, Pakualaman, denyut itu berlanjut dalam forum yang lebih intim: Focus Group Discussion (FGD) antarkomunitas sastra.

Di sinilah tema besar “Rampak” mengambil wujud yang lebih konkret. Komunitas-komunitas yang selama ini berjalan sendiri kini duduk bersama, membaca peta kondisi bersama, dan merumuskan langkah untuk memperkuat ekosistem sastra secara kolektif.

Menakar Urat Nadi Komunitas

Focus Group Discussion (FGD) yang diikuti 30 komunitas sastra di Yogyakarta

FGD ini melibatkan lebih dari 30 peserta terpilih, yang mewakili berbagai bentuk komunitas dan berbagai ragam aktivitas sastra. Mereka dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing difasilitasi oleh Kukuh Setyawan dan Rendra Agusta. Tugas para fasilitator adalah memetakan potensi dan tantangan komunitas berdasarkan formulir yang telah diisi peserta dan menggali lebih dalam lewat dialog terbuka.

Hasil yang diharapkan bukan hanya data, melainkan juga pemahaman bersama akan pentingnya suatu definisi baru. Definisi itu diharapkan lebih longgar, namun menjangkau lebih luas. Antara lain, komunitas sastra sebagai komunitas yang tak semata berbasis produksi karya tulis, melainkan juga praktik tubuh, aktivitas oral, hingga komunitas yang bekerja di pinggiran sirkuit penerbitan arus utama.

Regenerasi dan Pendanaan: Dua Ujung Masalah

Kelompok pertama membedah dua isu klasik: pendanaan dan regenerasi. Selama tiga tahun terakhir, komunitas bertahan dengan berbagai cara. Dari proposal ke Badan Bahasa, penjualan merchandise, hingga sponsor pementasan yang hanya menghasilkan uang tak lebih dari seratus ribu rupiah. Beberapa mengandalkan swadaya, bahkan menyambung hidup lewat hasil kebun atau kelompok usaha ibu-ibu.

Namun, semua itu rapuh. Gagal panen berarti kegiatan sastra pun terhenti. Sebagian komunitas belum memahami cara menyusun RAB atau mengakses dana pemerintah karena tak punya legalitas. “Membuat legalitas komunitas itu sendiri butuh biaya besar,” keluh salah satu peserta. Bahkan, akses ke pendanaan luar negeri tak mudah: persyaratan administratif mengharuskan rekam jejak pengelolaan dana ribuan dolar.

Dari forum ini muncul serangkaian rekomendasi: dinas kebudayaan diminta membuka akses informasi pendanaan secara jelas, membantu proses legalisasi komunitas, menyediakan ruang gratis untuk kegiatan komunitas, dan membentuk kanal komunikasi bersama agar komunitas tak lagi terpecah-pecah.

Namun, tak semua peserta sekadar mengeluh. Beberapa datang membawa kritik. “Mengapa tidak ada juru bahasa isyarat?” tanya satu peserta. “Bagaimana dengan kesetaraan gender? Kenapa semua pembicara laki-laki dan dari generasi tua?” Yang lain mempertanyakan absennya ruang bagi buruh buku seperti penerbit kecil, toko buku independen. “Sastra bukan hanya panggung, tapi juga tanah tempat benih diterbitkan,” katanya.

Publikasi dan Kolaborasi: Mencari Wajah Baru Sastra

Kelompok kedua menyentuh lapisan lain: visibilitas dan publikasi. Di sinilah wajah-wajah muda berbagi pengalaman tentang program yang berjalan tapi tak tersiar atau tentang acara yang dibuat dengan cinta namun tenggelam di linimasa.

Komunitas lainnya mengakui sering merasa tidak perlu memublikasikan kegiatan karena dianggap “skup kecil”. Sementara itu, komunitas yang bergerak di bidang sastra Jawa menyadari pentingnya desain publikasi. “Ketika desain menarik, netizen budiman ikut menyebarkan,” ujarnya.

Masalahnya bukan hanya promosi. Banyak komunitas masih terjebak dalam eksklusivitas. Seseorang dari sebuah komunitas seni mencatat bahwa sastra kerap dianggap tak komersial dan karenanya tak perlu dipromosikan. “Ada anggapan, karya yang lahir dari ketulusan tak perlu dijual,” katanya. Namun, ia juga menyadari bahwa romantisme semacam itu bisa menjadi bumerang.

Branding komunitas sastra seharusnya bukan hanya untuk komunitas sastra itu sendiri. Sastra bisa hidup kalau berkolaborasi lintas bidang,” ujarnya. Artinya, perlu jembatan: media internal komunitas, saluran komunikasi eksternal, bahkan jejaring antarlembaga.

Membentuk Ruang dan Rasa

Beberapa komunitas mencoba menjawab tantangan itu dengan cara mereka sendiri. Seklimah, sebuah majelis sastra yang lahir dari kegemaran menanam pohon, membangun kedekatan di antara anggotanya dari pertemuan-pertemuan informal. “Yang penting bukan hanya datang, tapi tetap tinggal,” kata salah satu anggotanya.

Peserta FGD memberikan masukannya

Ada pula perwakilan dari generasi remaja yang menyuarakan kebutuhan akan ruang belajar dan mentor sastra di daerah mereka. “Bertemu senior saja sulit,” katanya. Program pelatihan pun kadang hanya ramai di awal. Yang dibutuhkan adalah keberlanjutan—sebuah ruang untuk tumbuh bersama, tak hanya pelatihan satu-dua hari.

Menuju Peta Baru Ekosistem Sastra

Dari kedua kelompok, lahir rekomendasi serupa: pentingnya ruang berjejaring, pelatihan berkelanjutan, dan kolaborasi lintas komunitas. Ada pula harapan akan peran aktif pemerintah, bukan sekadar sebagai pemberi dana, melainkan juga sebagai mitra dalam membangun ekosistem sastra yang sehat.

Salah satu rekomendasi konkret adalah membuat ruang berkumpul di toko buku independen, membuka kanal pertemuan daring pasca-FSY, serta menyelenggarakan workshop penulisan yang menyenangkan tanpa kurasi yang kaku. “Ajak komunitas bukan karena nama besar, tapi karena semangat,” kata seorang peserta.

Sastra tak bisa hanya bergantung pada ideologi atau dana pemerintah. Ia hidup dari kerja lintas batas, dari tubuh-tubuh yang tak takut menyapa, dan dari komunitas yang tahu bahwa mereka tak bisa berjalan sendiri.

Yogyakarta, seperti biasa, sedang membentuk peta barunya sendiri. Bukan peta yang mengarah ke satu titik pusat, melainkan peta yang hidup dari jejaring: antara pojok kampus dan sudut pasar, antara pembaca dan pengarsip, antara penghayat dan penggerak. Sebuah peta yang rampak. Yang berjalan bersama.*** (oleh: Kanya Kiarra/sukusastra)

Catatan redaksi: tulisan ini adalah salinan dari artikel yang dimuat di sukusastra.com dan telah mendapatkan ijin dari penulis untuk dipublikasikan kembali pada situs resmi FSY