Festival Sastra Yogyakarta

Rampak Puisi Sastra Bulan Purnama

Pembacaan puisi oleh ibu-ibu dari kelompok Sastra Bulan Purnama

Rabu malam (30/7/2025), bulan di langit tak benar-benar penuh, hanya sabit. Namun, di bawah, ia sedang purnama. Puisilah yang membuat malam di Grha Budaya menjadi benderang. Kendati angin malam menggigit tulang, hal itu tak menghentikan Komunitas Sastra Bulan Purnama untuk menurunkan gorden hari pertama Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025.

Pembacaan sajak dimulai pukul 19.30 WIB oleh komunitas yang lahir pada bulan Oktober empat belas tahun silam. Umi Kulsum dan kawan-kawannya—mayoritas perempuan—menularkan semangat, seolah api yang melawan gigilnya malam. Tak hanya monolog, tetapi juga musikalisasi dan teatrikal kecil-kecilan.

Puisi, bagi Sastra Bulan Purnama, tak ubahnya penghubung antargenerasi dan antarpofesi. Banyak di antara anggotanya yang memang berkesibukan sebagai ibu rumah tangga, guru, aktris, fotografer, dan lainnya. “Kami tidak memiliki kartu anggota. Anggotanya bisa dari mana saja, hampir seluruh Indonesia. Asal menyukai sastra, menyukai puisi,” terang Umi Kulsum, selaku pengarah panggung di FSY, kepada para pengunjung tepi embung.

Sajak berjudul Fragmen Kunti Karna karya Ninuk Retno Raras menjadi pembuka, lalu ditutup dengan para anggota yang berbaris di atas panggung menyanyikan aransemen Aku Ingindari Sapardi Djoko Damono. Para hadirin tergoda untuk menyanyi saat nada itu mulai mengalun dari sistem audio. Malam agak menghangat, beramai-ramai, rampak di panggung teras. Dan para senior dari Sastra Bulan Purnama menolak purna dari puisi.*** (oleh Rully Andrian Syah/sukusastra)

Catatan redaksi: tulisan ini adalah salinan dari artikel yang dimuat di sukusastra.com dan telah mendapatkan ijin dari penulis untuk dipublikasikan kembali pada situs resmi FSY