Festival Sastra Yogyakarta

Temu Penerbit: Usaha Mendekatkan Penulis dengan Penerbit

Ardhias Nauvaly menata alat tulisnya dengan cermat di atas meja bertaplak hitam. Siang itu, Kamis (31/7/2025), ia akan berdiskusi dengan tiga orang peserta Temu Penerbit yang drafnya dianggap menjanjikan. Setelah itu, ia akan berdiskusi secara daring dengan tujuh orang peserta lain.

Ardhias Nauvaly, editor Bentang Pustaka, akan bertemu dengan peserta Temu Penerbit untuk membicarakan draft tulisan mereka

Ardhias adalah lulusan jurusan arkeologi UGM yang kemudian berkarier sebagai editor Bentang Pustaka. Tugasnya antara lain mencari dan menyunting naskah buku fiksi yang diterbitkan oleh penerbit yang berkantor di Sleman, Yogyakarta itu.

Temu Penerbit dilaksanakan dalam rangka Festival Sastra Yogyakarta 2025. Bentang Pustaka mengelolanya bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, IKAPI DIY, dan Suku Sastra.

Selama lebih kurang seminggu masa penerimaan naskah, ada tiga puluh delapan naskah yang diterima tim. Ardhias dan kawan-kawan menyaringnya hingga menjadi sepuluh naskah. Hanya ada tiga orang peserta yang berdomisili di Yogyakarta. Tujuh lainnya dari luar kota sehingga diskusi harus dilakukan secara daring.

Ruangan tempat diskusi luring terletak di lantai dua gedung Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan. Tidak seberapa luas, tetapi cukup tenang dibanding lantai satu yang ramai oleh diskusi dan pengunjung Pasar Buku.

Jendela kaca yang besar membingkai langit yang mendung sejak pagi. Tidak bisa dipastikan akan turun hujan atau tidak. Tetapi, malam sebelumnya angin sempat berembus kencang di Embung Giwangan. Angin dari Australia yang dingin dan kencang akhirnya benar-benar tiba.

Setelah Ardhias siap, Christina Brenda Putri dan Zsazsa Yusharyahya Permata dari Suku Sastra mempersilakan ketiga peserta untuk masuk satu demi satu. Ardhias duduk di kursi dengan latar belakang lukisan besar di dinding. Peserta duduk di seberang meja.

Dengan hangat, tetapi tetap cermat, Ardhias memancing para penulis menceritakan naskah masing-masing lebih detail. Rata-rata diskusi naskah memakan waktu sekitar lima belas menit. Para peserta tersebut adalah Nadya Widjanarko, Andri Nur Latif, dan Ruruh Meganingtyas.

Mbak Nadya baru pertama kali ini mengikuti pitching naskah dengan format ini. Ia hanya ingin mencoba dan tidak terlalu banyak berharap. Namun, karena ada kesempatan, ia tetap mencoba. Ia menyatakan suasana pitching enak, seperti mengobrol dengan teman, walaupun agak gugup ketika Ardhias menanyakan latar belakang tokoh novelnya.

Ia merasa waktu untuk berkomunikasi dengan perwakilan penerbit sudah cukup. Seandainya diberi kesempatan, ia ingin mengubah bagian di mana tokoh utamanya berkonflik dengan guru PPKN. Kalau diterima untuk diterbitkan, ia membayangkan akan ada revisi dan editing karena penerbit punya pertimbangan tertentu.

Mas Andri juga baru melakukan pitching ini pertama kali. Ia baru mendaftar pada hari terakhir penerimaan, yaitu 29 Juli 2025. Hanya, ia merasa suasana pitching terlalu kaku dan formal. Lebih enak kalau mengobrol dengan santai sambil duduk berdampingan, bukan saling berhadapan.

Ia menduga mungkin memang ada standar waktu pitching, tetapi kalau mau mengobrol lebih serius, waktunya jelas kurang. Ia tidak ingin mengubah naskah karena naskah yang diajukannya adalah naskah yang sudah jadi sejak lama. Namun, ia belum mau membayangkan bentuk bukunya seandainya diterima untuk diterbitkan.

Salah satu peserta Temu Penerbit menjelaskan tentang draft novelnya

Mbak Ruruh Meganingtyas awalnya hanya “ikut-ikutan” ikut acara Temu Penerbit. Ini baru kali pertama ia ikut acara semacam ini. Ternyata Ardhias satu kampus dengannya, yaitu UGM, tetapi angkatan mereka terpaut jauh. Ardhias memberikan komentar bahwa naskah Mbak Ruruh “masuk” dengan tema yang diberikan Ardhias.

Ia juga mengaku bahwa waktu untuk berkomunikasi dengan pihak penerbit sudah cukup. “Dikasih kopi lagi,” katanya sambil tertawa. Kalau ada kesempatan, ia akan merapikan drafnya yang masih “berantakan”. Kalau nanti diterbitkan, ia membayangkan bukunya akan “gelap”.

Setelah selesai dengan ketiga peserta, Ardhias mengemasi peralatannya. Ia akan melanjutkan diskusi dengan tujuh peserta lain secara daring di luar area.

Ardhias melihat ada kesamaan di antara naskah-naskah yang menarik perhatian. Para penulisnya paham betul dengan apa yang mau diceritakan. Mereka juga paham dengan maksud kuratorial dari tim Temu penerbit.

Hanya, ada penulis yang kurang memahami apa yang hendak ditulis. Mereka kadung kesengsem dengan istilah-istilah besar seperti politik, ideologi, Marxisme, dan semacamnya. Padahal, hal-hal itu bisa mengorbankan kenikmatan cerita.

Menurut Ardhias, para penulis itu sering berangkat dari hal-hal yang dijumpai sehari-hari. Ada yg bercerita tentang ibu menyusui atau anak-anak yang merasa sekolah begitu membosankan. Sehari-hari di sini tidak melulu sebagai sesuatu yg “dialami”, tetapi bisa juga sesuatu yang “dibaca/diketahui”.

Peserta yang naskahnya menarik mampu menjelaskan kenyataan sosial hari-hari dengan cara yang memikat dan jarang ditilik. Bagi Ardhias, itulah tugas sastra: menyentuh yang tak disentuh, mengangkat yang tertimbun.

Tentang Temu Penerbit, atau bisa juga disebut pitching penerbit, Ardhias menilai bisa menjawab dua asumsi sembrono. Pertama, bahwa ada penulis yang kadang putus asa karena tidak ada penerbit yang dirasa cocok, pantas, dan mau menerbitkan naskahnya. Kedua, bahwa di sisi lain kadang penerbit merasa kehabisan penulis.

Kepada para penulis muda yang ingin bukunya dilirik penerbit, Ardhias memberi saran agar memahami dulu tulisan dan cerita masing-masing, berangkat dari yang dekat, dan memperkaya diri dengan bacaan dan obrolan. Kalau sudah demikian, kita akan melihat yang dekat-dekat dengan cara yang berbeda dan lebih menakjubkan.*** (oleh: An Ismanto/sukusastra)

Catatan redaksi: tulisan ini adalah salinan dari artikel yang dimuat di sukusastra.com dan telah mendapatkan ijin dari penulis untuk dipublikasikan kembali pada situs resmi FSY